search
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
light_mode dark_mode
Meski Tampilkan Unsur Kelembutan, Dinamika Janger Harus Tetap Terjaga
Senin, 9 Juli 2018, 17:55 WITA Follow
image

beritabali.com/ist

IKUTI BERITABALI.COM DI

GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com,Denpasar. Pengamat kesenian menegaskan dalam kesenian Janger unsur lembut diperbolehkan, namun juga tetap menjaga dinamika agar membangkitkan spirit.
 
[pilihan-redaksi]
Pengamat Seni I Wayan Madra Aryasa mengatakan memang tak dapat dipungkiri bahwa gaya majangeran di setiap daerah berbeda-beda. Namun, sebagai pengamat Madra menuturkan tarian Bali memang tak luput dari unsur dinamis. 
 
“Kedinamisan itu perlu karena ini tontonan publik sehingga dapat menambah roh seisi pementasan,” ujar Madra sebagai pengamat kesenian janger yang hadir di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya, Denpasar.
 
Meski memiliki kelembutan yang merindukan kedinamisan, namun bagi Madra baik janger dari Tabanan maupun dari kabupaten dan kota lainnya telah berusaha untuk tampil maksimal. 
 
“Rata-rata dari segi unsur klasik janger itu sendiri masih bisa mereka pertahankan,”ujar Madra menambahkan. 
 
Kabupaten Tabanan sendiri menggarap sebuah janger melelampahan yang bertajuk Gugurnya Niwatakawaca. Gugurnya Niwatakawaca mengisahkan gejolak asmara Niwatakawaca yang jatuh hati dengan Dewi Supraba. Pada akhirnya Niwatakawaca yang jahat harus gugur sebab letak kesaktiannya yang berada di pangkal lidah dibeberkan oleh Dewi Supraba.
 
[pilihan-redaksi2]
Menurut koordinator garapan ini yakni I Made Adi Sutrisna, bahwa dipilihnya cerita Gugurnya Niwatakawaca sebagai alur cerita guna menyadarkan generasi muda di era globalisasi agar senantiasa berpegang teguh pada perbuatan, perkataan, dan pikiran yang baik. 
 
Adi yang turut menjabat sebagai Ketua karang Taruna Desa Dajan Peken, Tabanan ini pun berujar bahwa garapan ini melibatkan sembilan sekaa truna-truni yang berada di Desa Dajan Peken. “Pada garapan ini kami dibina langsung oleh Ida Ayu Agung Yuliaswati yang sudah tak asing soal janger ,” ujar Adi. Garapan ini menghabiskan waktu latihan selama 6 (enam) bulan yang berawal dari latihan untuk festival di Tabanan, Bali Mandara Nawanatya, dan akhirnya berlabuh ke Pesta Kesenian Bali. 
 
“Awalnya kita iseng mau coba ikut Nawanatya dan akhirnya kita kembali dipercaya untuk tampil di PKB,” tutur Adi seolah tak percaya. (bbn/rls/rob)

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami