search
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
light_mode dark_mode
Bali Krisis Air Bersih, Pakar Lingkungan Serukan Aksi Nyata
Rabu, 26 Maret 2025, 17:42 WITA Follow
image

beritabali/ist/Bali Krisis Air Bersih, Pakar Lingkungan Serukan Aksi Nyata.

IKUTI BERITABALI.COM DI

GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Dalam peringatan Hari Hutan dan Hari Air Sedunia, isu krisis air di Bali semakin menjadi perhatian. Pakar lingkungan dan pertanian organik, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., bersama aktivis lingkungan dari Paiketan Krama Bali dan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana, membahas masalah ini dalam webinar bertajuk "Air dan Kehidupan," Sabtu (22/3/2025).

Fakta menunjukkan bahwa kondisi air di Bali kian memprihatinkan. Sungai (Tukad) Ayung yang menjadi sumber air bagi PDAM Kota Denpasar dan Badung mengalami penurunan kualitas, bahkan bercampur pasir. Selain itu, empat danau utama di Bali mengalami penurunan volume akibat sedimentasi dan polusi.

Hutan Adalah Sumber Air, Kerusakan Hutan Memperparah Krisis

Dalam paparannya, Prof. Kartini menegaskan bahwa hutan adalah "ibu" dari air dan kehidupan. Ia mengingatkan bahwa tanpa hutan, suplai air akan berkurang drastis.

"Jika krisis air ini tidak segera mendapat perhatian serius, masa depan generasi mendatang akan sangat sulit," sebutnya.

Selain itu, keberlanjutan Subak sebagai warisan budaya dunia juga terancam. Dalam video yang viral, budayawan Sugi Lanus bahkan memprediksi bahwa dalam 35 tahun ke depan, Subak di Bali akan punah jika konversi lahan pertanian terus dibiarkan.

Dampak Buruk Krisis Air

Kartini menjelaskan bahwa air memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, mulai dari menjaga fungsi organ tubuh hingga menjadi sumber utama pertanian. Namun, deforestasi dan eksploitasi alam menyebabkan krisis air semakin parah.

Menurut data, sejak 2011 Bali sudah mengalami defisit air. Sementara itu, danau-danau di Bali berisiko tercemar dan bahkan menghilang, seperti yang sudah terjadi di berbagai belahan dunia.

"Kenapa para pejabat di Bali belum berteriak? Apakah karena masih ada air tanah?" ujar Kartini dengan nada prihatin.

Alih Fungsi Lahan dan Regulasi yang Lemah

Nyoman Merta, Direktur Eksekutif Paiketan Krama Bali, mengungkapkan bahwa setiap tahun sekitar 2.000 hektar lahan sawah di Bali dikonversi menjadi bangunan. Sistem perizinan online OSS mempermudah investor merusak hutan dan lahan pertanian tanpa kendali.

Beberapa regulasi yang seharusnya melindungi lingkungan, seperti UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan Perda No. 9 Tahun 2012 tentang Subak, dinilai kurang efektif karena lemahnya implementasi di lapangan.

Seruan untuk Bertindak: Jaga Mata Air, Bukan Air Mata

Prof. Kartini menyerukan kepada pemimpin Bali untuk segera bertindak dalam menangani krisis air. "Saya mengajak para pemimpin dan kita semua untuk mewariskan mata air kepada anak-cucu, bukan air mata," katanya.

Senada dengan itu, Dr. I Njoman Sutedja, aktivis Paiketan Krama Bali, menegaskan pentingnya aksi nyata untuk menyelamatkan lingkungan. Ia mengajak semua pihak bersatu dalam gerakan penyelamatan air dan alam Bali.

Tanpa langkah konkret, ancaman krisis air di Bali bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang akan dirasakan oleh generasi mendatang.

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami